Berhasil Unduh Data FDR Black Box, KNKT Dapatkan Petunjuk Kecelakaan Sriwijaya Air

  • Whatsapp

INDOPOLITIKA.COM – Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) berhasil mengunduh data dari Flight Data Recorder (FDR) pesawat Sriwijaya Air pada Senin (18/1/2020).

Ketua Sub Komite Investigasi Kecelakaan Penerbangan KNKT, Captain Nurcahyo Utomo membeberkan, total data dalam FDR berisi catatan 18 penerbangan. Termasuk penerbangan terakhir dengan rute Jakarta-Pontianak yang mengalami kecelakaan.

Read More

“Bahwa kami sudah atau sedang mengunduh data FDR dan kami sampaikan bahwa data dari flight data recorder sudah bisa kami dapatkan, sudah berhasil diunduh dengan total adalah 370 parameter, 27 jam dan atau 18 penerbangan, termasuk penerbangan yang mengalami kecelakaan,” kata Nurcahyo dalam sebuah video yang diterima pada Selasa (19/1/2020).

Saat ini, data tersebut tengah didalami oleh tim. KNKT belum bisa mempublikasikan isi dari catatan penerbangan tersebut. Dari data yang sudah diunduh, pihaknya mengaku telah mendapatkan petunjuk untuk mencari tahu sebab kecelakaan Sriwijaya Air SJ-182.

“Namun demikian dari data yang kami peroleh dari data flight data recorder ini, kami mendapatkan beberapa petunjuk untuk bisa didalami lebih lanjut data-data yang kami perlukan untuk keperluan investigasi dan kami juga masih mengharapkan dapat ditemukannya CVR untuk mendukung data-data yang telah kami peroleh dari FDR,” sebutnya seperti dikutip dari merdeka.com.

Melibatkan Investigator dari AS dan Singapura

Dalam investigasi untuk mengungkap kecelakaan pesawat Sriwijaya Air, Nurcahyo mengaku pihaknya dibantu oleh tim dari Amerika Serikat (AS) dan Singapura. Investigator dari AS sendiri berjumlah 11 orang.

Serpihan pesawat Sriwijaya Air SJ-182 terlihat di JICT II Tanjung Priok, Jakarta, Senin (18/1/2021). Foto: Faizal Fanani/liputan6

“Minggu kemarin telah hadir bersama KNKT untuk berpartisipasi dalam investigasi tim dari Amerika, terdiri dari empat dari NTSB (Dewan Keselamatan Transportasi Nasional), empat dari Boeing, dua dari FEE, dan satu dari General Electric sebagai pabrik pembuat mesin, jadi total dari Amerika ada 11 orang,” ujarnya.

Keterlibatan tim dari AS, kata Nurcahyo sejalan dengan aturan dari internasional yang mangetur soal hal itu. “Hal ini sesuai dengan ketentuan dari ICAO (Organisasi Penerbangan Sipil Internasional) Annexes 13, di mana negara pembuat dan pendesain pesawat berhak berpartisipasi dalam investigasi,” katanya.

Selain AS, dua tim investigasi dari Singapura juga turut dilibatkan. Keduanya dari Transport Safety Investigation Bureau (TSIB) Singapura. Partisipasi dari negara tetangga itu lantaran sebuah pakta kerja sama antar negara-negara di Asia Tenggara.

“Dalam hal ini partisipasi sesuai dengan kerja sama negara-negara ASEAN,” pungkasnya. [ind]

 

Sumber: Indopolitika.com

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *